Label

Kamis, 07 Februari 2019

Sepenggal Kisah Si Penjaga Gunung Lakaan

Oleh: Richi Anyan

Bagi kebanyakan warga Belu tak asing dengan nama yang satu ini. Dia bukan pejabat pemerintahan, bukan pula pengusaha atau pun konglomerat. Andreas Mali Manek alias Mali Manek namanya. Dia hanyalah sisa manusia yang masih menghargai sejarah dan budaya yang ada di Kabupaten Belu. Dia-lah Sang Juru Kunci Gunung Lakaan.



Mali Manek tinggal di bawah kaki Gunung Lakaan bersama istri dan anak-anaknya. Mereka adalah satu-satunya keluarga yang tinggal di sana.
Dahulu dia tinggal bersama istri pertama dan lima orang anaknya. Namun, seiring berjalannya waktu, anak-anaknya mulai bertumbuh dewasa dan menikah. Mereka memilih untuk tidak tinggal di tempat itu bersama orang tuanya. Mereka lebih memilih tinggal di kampung-kampung lain yang sudah banyak penghuninya.
“Saya dan istri saya tinggal sendiri di sini”, ujarnya ketika membuka pembicaraan dengan wartawan kilastimor.com pada, Rabu (21/6). “Tidak ada orang lain”, lanjutnya.
Mali Manek lahir dari keluarga yang sederhana sekitar tahun 1939 atau 1940 di rumah yang dia tempati saat ini. Sejak kecil, Mali Manek sudah diajarkan soal bagaimana menghargai budaya dan lingkungan sekitarnya.
Mali manek berkisah banyak hal tentang sejarah terjadinya Pulau Timor dan Gunung Lakaan yang diturunkan oleh nenekmoyangnya secara lisan.
Menurut cerita orang tua-tua di Belu, pada zaman dahulu kala, seluruh Pulau Timor masih digenangi air, kecuali puncak Gunung Lakaan, yang letaknya di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Indonesia sekarang. Gunung ini menjadi gunung tertinggi di Pulau Timor.
Ia berkibar seperti bintang yang kilang-kemilau. Karena itu, Gunung ini dijuluki: “SA MANE KMESAK, BAUDINIK KMESAK, LAKA-AN, NAKSINAK-AN: SANG PUTRA TUNGGAL, SANG BINTANG SATU-SATUNYA, BERCAHAYA SENDIRI, BERSINAR SENDIRI”.
Ketika air masih menutupi seluruh permukaan bumi, puncak Gunung Lakaan sendirilah yang muncul pertama kalinya. Sampai ada sapaan adat Suku Tetun yang mengatakan: Gunung Lakaan ibarat biji mata ayam, bagaikan belahan pinang, laksana segumpal nasi, seperti pusar uang perak. Atau dalam bahasa Tetunnya: FOIN NUU MANU MATAN, BUA KLAUT, FOIN NUU ETU KUMUN, FOIN NUU MURAK HUSAR.
Julukan itu dilanjutkan dengan: MAK NAHU, MAK NAMATA, RAI HUSAR, RAI BINAN: Dialah yang memulai, dialah yang awal, dialah tanah pusat, dialah tanah kaum kerabat, semua saudara-saudari.
Apa yang dikisahkan Mali Manek mengingatkan saya akan legenda Gunung Lakaan. Alkisah, Pada suatu hari turunlah seorang putri dewata di puncak Gunung Lakaan dan tinggallah ia di sana. Putri dewata itu bernama LAKA LORA KMESAK (atau kadang disebut LAKA LORO KMESAK) yang dalam bahasa Tetun berarti Putri Tunggal yang tidak berasal usul. LAKA LORO KMESAK adalah seorang putri cantik jelita dan luar biasa kesaktiaannya. Karena kesaktiannya yang luar biasa, maka LAKA LORO KMESAK dapat melahirkan anak dengan suami yang tidak pernah dikenal orang. Itulah sebabnya Laka Loro Kmesak dijuluki dengan nama NAIN BILAK-AN, yang artinya berbuat sendiri dan menjelma sendiri.
Berbagai cerita yang dikisahkan oleh Andreas Mali Manek itu hanyalah cerita yang didapat oleh orang tuanya secara turun temurun. Tujuannya untuk mendidik anak-anaknya untuk tetap menjaga melestarikan budaya dan lingkungan sekitarnya.
Hanya saja didikan orang tuanya tak berlangsung lama. Masih tergambar jelas dalam ingatannya tragedi sadis yang merengut nyawa kedua orang tunya.

Waktu itu, 24 Februari 1958, tepatnya hari Rabu malam, rumahnya dirampok oleh sekelompok orang. Mereka datang dengan senjata tajam dan membunuh kakek, nenek, ayah, ibu, dan saudarinya.
“Saya waktu itu masih kecil. Saya dipotong di tangan dan kepala. Untung saya masih hidup,” kenang pria yang keriput tulang pipih gambaran usianya yang sudah lanjut.
Mali Manek kecil, tidak ingin trauma dengan kejadian itu. Sebagai manusia, ia menyimpan dendam membara di dalam harinya. Sejak saat itu, dia menggeluti beberapa ilmu bela diri.
“Dia dulu ikut silat kampung dan terkenal sangat hebat dan lincah,” kenang Sisilia Kolo, salah seorang yang mengenalnya.
Bukanlah hal yang penting untuk kita ketahui, apakah dia membalaskan dendamnya atau tidak? Namun yang paling penting adalah apa yang pernah diajarkan oleh orang tuanya, selalu dia kenang dan mengamalkannya dalam sisa hidupnya.
Terbukti, dia tidak ingin meninggalkan rumah tempat kelahiran seperti sudara-saudaranya yang lain. Mali Manek tetap tinggal di rumah itu untuk meneruskan tradisi yang sudah diturunkan oleh kedua orang tuanya untuk menjaga Gunung Lakaan.
“Sekarang, orang-orang baik tidak ada yang jahat dengan kami. Tapi kalau ada yang mau jual… saya beli”, ujarnya sembari tertawa sehingga terlihat beberapa giginya sudah tanggal.
Saat sekarang, banyak sekali orang yang mendaki Gunung Lakaan. Mali Manek selalu mengingatkan mereka agar tidak merusak apapun yang ada di gunung itu. Iya juga selalu menekankan soal kesakralan Gunung Lakaan. Karena itu dia selalu memberikan sirih dan pinang agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Ada yang makan sirih pinang itu ada juga yang tidak makan, tapi tidak apa-apa yang penting mereka datang dulu ke saya,” ujarnya.
Mali Manek menuturkan bahwa banyak sekali orang yang mendaki tidak melalui dia dan menghilang begitu saja ketika tiba di puncak gunung. Karena itu, dia menyarankan kepada semua orang yang ingin mendaki Gunung Lakaan agar sebisa mungkin menemui dia sebelum mendaki gunung tanpa dipungut biaya sepersen pun.
Mungkin ini hanya sepenggal kisah dari Mali Manek tentang bagaimana ia menghargai budaya. Perlu kita akui bahwa menjaga budaya dan kelestarian alam sekitar Gunung Lakaan bukanlah sebuah hal yang mudah, butuh komitmen dan tekad yang kuat. Itulah yang dipunyai Mali Manek. 
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: