Label

Selasa, 27 Desember 2011

Aku Ditelanjangi Oleh Pram dan Ki Hajar Dewantara

“cicak yang tidak sekolah pun tahu dimana ia harus mencari makan, sedangkan manusia yang sekolah tidak tahu diaman ia harus mencari makan” demikian kata Pramudia Ananta Toer.

Oleh: Richi Richardus P. Anyan

Untuk sekian kalinya lagi aku harus berhenti membaca, duduk termenung, kaku, seakan tak berdaya. kepalaku tertunduk malu. terkadang aku sedikit memandang ke langitan. Tak sepata kata pun yang keluar dari mulutku selain imajinasi yang melalang buana ke langitan dunia. Kembali aku membaca pikiran pram yang tidak setuju dengan anak yang suka meminta pada orang tuanya. tertegun… aku membuka buku yang satunya lagi. Kali ini ki hajar dewantara yang mempermalukan aku dengan seekor cicak. “cicak yang tidak sekolah pun tahu dimana ia harus mencari makan, sedangkan manusia yang sekolah tidak tahu diaman ia harus mencari makan”.
Untuk sekian kali itu pula aku merasa ditelanjangi oleh Pram dan ki hajar dewantara. 
Ingin aku melawan, tapi tak ada dalil yang dapat dijadikan azas untuk melawan. ingin aku berteriak, tapi untuk apa aku harus meneriaki kesalahan yang sudah dibenarkan oleh konstruksi sosial. Percuma bukan? Ingin aku menangis, tapi mungkin aku harus menyimpan air mataku apabila aku melakukan kesalahan yang sama untuk anak cucuku.
Aku dibesarkan dalam suatu kontrusi budaya yang menjadikan aku seorang seorang peminta-minta. Kala aku menjadi sorang peminta-minta, mereka bilang itu bukan pengemis, tapi suatu anugrah karena ada tanggung jawab dari mereka.
Entah kapan budaya itu diajarkan, aku pun sampai saat ini masih terus mencari tahu. Zaman nenek moyangku dan juga kamu, orang diajarkan untuk mencari makan sendiri, kalau tidak, orang itu tidak bisa makan. inilah zaman keemasan yang pernah terjadi dalam budayaku. Namun budaya itu terputus, kapan? Aku tak tahu. tapi satu yang pasti, budaya itu kini telah menghilang, entah kemana perginya.
Budaya mengemis telahmendara daging, akibatnya, orang lulsan sarjana pun terpaksa harus memikul “map” yang berisikan ijasah untuk mencari pekerjaan, orang lupa kalau mereka seharusnya menciptakan lapangan kerja. Namun… jangankan lapangan kerja untuk orang lain, menciptakan lapangan pekerjaan untuk diri senripun tak mampu…. Apakah ini yang disebut budaya yang baik?
Pada Jepang, seorang anak SD dapat mencari uang jajan dengan menciptakan subuah robot dan dijualkan ke orang lain. Berbeda dengan di Indonesia, seorang anak kecil tidak mau pergi ke sekolah karena tidak mendapatkan uang jajan dari orang tuanya. Ini bukan hal yang lucu tapi meresahkan. mungkin terlalu jauh… aku bisa sampai tiga hari tidak makan hanya karena tidak mendapat kiriman dari orang tua. aku sering menunggak pembayaran uang kuliah karena menunggu kiriman dari orang tua.
Mungkin saat ini aku harus mengakui kalau aku masih lebih bodok dari seekor cicak yang tidak sekolah, tapi tahu dimana ia harus mencari makan. Mungkin martabatku masih lebih rendah dari anak-anak SD di jepang.
Akan tetapi aku sedikit tertawa karena aku masih lebih baik daripada orang yang sama sekali tidak menyadari hal ini…. Apakah kalian menyadarinya?
Dimuat Pada Persma.com

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: