Label

Selasa, 27 Desember 2011

Mahasiswa Menjadi Robot dan Mahasiwa


Oleh Richi Richardus Petrus Anyan

Mengapa Dunia kampus hampir sama dengan Dunia penjara, yang mana Napi (Nara Pidana) begitu bahagia ketika keluar penjara, hampir tidak ada bedanya dengan mahasiswa yang begitu bahagia ketika selesai dari Dunia Kampus?

Cucuran keringat mulai turun perlahan dari keningku. Aku duduk dalam bisingnya sebuah ocehan seorang dosen yang memberikan kuliah sudah hampir dua jam. Awalnya menarik, tapi lama-kelamaan aq aku mulai bosan. Mungkin karena panasnya suhu siang itu membuat suasana hati menjadi mudah marah. Namun lebih dari itu, kemarahanku sebenarnya bukan tak beralasan. Bagiku, dosen yang memberikan perkuliahan selama dua jam dan mahasiswanya hanya mengdengarkan adalah dosen yang lupa akan tugasnya sebagai fasilitator, bukan orator. Tidak hanya hari itu, hampir setiap hari aku lewatkan dengan suatu kesesalan atas rasa sok pintarnya dosen samapi lupa akan tugasnya sebagai fasilitator.

Arah jarum jam menunjukan pukul 12.00 siang. Aku melihat ke depan ruang kelas. Ada sebuah papan tulis berukuran 1,5m x 3m. Warna papan tulis itu hitam keputih-putihan karena sudah sering dipakai. Papan tulis ini menempel pada sebuah tembok berwarna kuning pucat. Setengah meter di atas papan tulis ada sebuah foto burung Garuda yang diapit oleh foto Presiden dan Wakil Presiden RI yang sudah usang dalam bingkai karena lama tak diganti. Berdiri seorang manusia dengan rambut ikal, berkulit sawo matang dengan alis yang agak tebal menempel pada dahinya di hadapan kami. Tatapan matanya tajam ke depan seakan mendikte setiap orang yang dipandang. Kumis tebal berada di antara mulut dan hidingnya yang sedikit mancung ke dalam. Umurnya sudah mendekati paruh baya. Dia adalah salah satu dosen yang memberikan kami perkuliahan.

Orang paruh baya itu beroceh di hadapan kami tampa mau memperhatikan sekitarnya. Hamper semua mahsiswa yang hadir di dalam kelas tidak mendengarkan apa yang dia bicarakan. Ada mahasiswa yang sibuk Facebook-an dalam kelas, ada yang asyik bercerita, dan ada-ada saja kesibukan yang dibuat mahasiswa lain saat mengikuti perkulihan itu. Tidak hanya di perkuliahan itu saja, tapi di perkuliahan lain, teman-teman mahasiswa (dan kadang aku pun ikut berbaur) melakukan hal yang sama. Menurutku, dosen itu tahu kalau mahasiswanya tidak memperhatikan saat dia memberikan perkuliahan. Namun anehnya, dosen itu tidak pernah menegur satu mahasiswa pun yang tidak mengikuti perkuliahannya secara benar. Selesai kuliah dosen itu memberikan tugas untuk menyelesaikan makalah dan akan dikumpulkan minggu berikutnya. Setelah dosen itu meninggalkan ruang perkuliahan, para mahasiswa spontan berekspresi kegirangan karena perkuliahan sudah selesai.

Saat itu saya bertanya dalam hati, menapa mahasiswa ketika masuk kelas dengan wajah yang begitu lesuh, sedangkan selesai perkuliahan wajah mahasiswa begitu bersiri? Apa yang salah dalam perkuliahan? Apakah dosen salah dalam metode pengajaran saat memberikan perkuliahan? Apakah mahasiswa yang harus coba mengintropeksi lagi diri mereka masing-masing tentang tujuan perkuliahan itu sendiri adalah ilmu bukan nilai atau hasil akhir yang diangkakan? Mengapa Dunia kampus hampir sama dengan Dunia penjara, yang mana Napi (Nara Pidana) begitu bahagia ketika keluar penjara, hampir tidak ada bedanya dengan mahasiswa yang begitu bahagia ketika selesai dari Dunia Kampus? Apa yang salah dari sistem pendidikan itu sendiri samapai membuat pendidikan seperti penjara yang begitu menyiksa? Masih ada banyak pertanyaan lagi yang muncul dalam benakku saat itu. Pertanyaan-pertanyaan itu seperti apasih sebenarnya mahasiswa itu dan apa perannya bagi dirinya dan bangsa? Mungkin saya yang sok skeptis saat itu. Akhirnya saya keluar dari kelas mengikuti teman-teman lain guna melanjutkan perkuliahan berikutnya.

Kejadian di kelas tadi menjadi kegelisahan saya yang coba saya seringkan ke beberapa orang teman. Ternyata tidak hanya aku, tapi juga ada beberapa orang teman lain yang merasakan hal yang sama. Setelah melalui diskusi yang panjang dan membaca beberapa referensi, saya mencoba mensharingkan apa yang saya dapatkan itu. Saya akan mulai menceritakan dari sejarah mahasiswa sampai pada perkembangannya hingga saat ini dan perkembangan situasi kampus Sanata dharma secara garis besar.

Kilas Balik Sejarah Mahsiswa

Mahasiswa merupakan suatu golongan yang yang terbilang baru di Indonesia. Dalam sejarah singkat itu, ada banyak hal yamng sudah dilakukan oleh mahasiswa bagi bangsa ini.

Pemuda-pemuda yang menjadi mahsiswa pada suatu perguruan tinggi di negri kita adalah pemuda-pemuda yang belajar di techniscbe hoogeschool (THS) yang didirika sebagai suatu usaha swasta di Bandung pada Tahun 1920. Jumlah mahasiswa pertama kali di tempat ini berjumlah 28 orang dan enam di antaranya adalah masyarak pribumi. Salah satu dari enam orang ini adalah presiden pertama Republik Indonesia yang menyelesaikan studinya pada tahun 1926.

Pada tahun 1924 dibuka Rechtshoogeschool (RHS) yang mana mahasiswanya dididik menjadi para ahli hukum. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1927, dibuka pendidikan tinggi untuk menjadi calon-calon ahli kedokteran. Banyak dari pemuda-pemuda yang menjadi mahasiswa ini ikut serta dalam pergerakan politik yang akhirnya menyebabkan kehancuran struktur masyarakat jajahan.
Para pemuda dan mahasiswa-mahasiswa lainlah yang pertama-tama bertekad untuk mempersatukan seluruh pulau dan suku bangsa yang ada di Nusantara ini menjadi satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa, Indonesia. Pada mulanya pergerakan mereka ini dianggap oleh para orang tua yang bekerja di pemerintahan saat itu sebagai sebuah tindakan anak-anak yang tidak punya artinya. Akan tetapi, sejarah memperlihatkan bahwa gerakan pemuda yang sering kita kenal dengan Sumpah pemuda ini telah memberikan banyak sekali manfaat kepada bangsa ini.

Pada taun 1968, para mahasiswa yang terdaftar di universitas-universitas dan juga institute-institut pendidikan tinggi negri di Indonesia telah mencapai 117.964 orang. Di samping itu, masih ada banyak lagi mahasiswa yang berada di berbagai perguruan tinggi swasta saat itu.

Pada tahun 1960-an, peran mahasiswa amatlah penting. Pada masa-masa ini, mahsiswa berperan besar dalam menggulingkan Rezim Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno dan bersama-sama membangun Rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto.

Kehidupan mahasiswa tentunya tidak hanya berkutat pada dunia perkuliahan dan politik saja. Sebagian besar dari mahasiswa tidak terlibat dalam politik.

Pada tahun 1960-an ini, muncul seorang pelopor mahasiswa yang sampai sekarang menjadi symbol pergerakan mahasiswa di seluruh Indonesia. Dialah Soe Hok Gie. Seorang pemuda Indonesia yang beperawakan kecil tapi bercita-cita besar. Memang tidak semua mahasiwa seperti Soe Hok Gie yang yang memiliki semangat cukup besar untuk mewujudkan apa yang dia cita-citakan. Selain itu dia juga rajin menulis tentang apa yang dibuat dan dipikirkan saat itu. Soe Hok Gie adalah salah satu orang yang ikut dalam melengserkan Rezim Orde Lama dan pada mulanya mendukung Rezim Orde baru walau akhirnya dia dengan tajam mengkritisi Rezim Orde Baru  (Orba) tersebut.

Orba dan Pengaruhnya dalam Dunia Pendidikan

Pada pertengahan tahun 2009, tepatnya pada bulan Agustus, LPM natas mengeluarkan Buletin natas edisi khusus dengan nama Djujugan. Dalam edisi khusus ini LPM natas coba membahas tentang perkembangan mahasiswa dari tahun ke tahun hingga saat itu dengan satu tema besar yaitu “Mahasiswa Bangun Tidur, Tidur Lagi!”.

Pada saat itu aku mendapat tugas menulis tentang sejarah mahasiswa di jaman Orde baru. Aku mengambil beberapa referensi untuk coba melihat perkembangan mahasiswa saat itu. Setelah aku membaca buku-buku itu dan mencoba mendiskusikan dengan beberapa orang akhirnya aku menulis artikel itu dengan judul “Kaum Kritikus Dipaksa Menjadi Kaum Kripikus”.

Pertanyaannya: mengapa aku menulis dengan judul seperti itu? Apa yang terjadidengan mahasiswa saat itu? Lalau apa efeknya ke kita (mahasiswa) saat ini?

Mahasiswa merupakan suatu golongan yang sedang mengalami pertumbuhan dan sedang mempersiapkan diri untuk menerima tanggung jawab sebagai orang-orang dewasa sepenuhnya. Selain itu, mahasiswa sebagai agen perubahanm atau istilah kunonya agen of change saat itu mencoba untuk mengkritik pemerintahan tirani. Hal ini disebabkan karena pemerintahan saat itu tidak hanya memperkosa demokrasi di Indonesia, tapi juga masalah-masalah lain yang mungkin sudah kita ketahui bersama. Usaha mahasiswa saat itu tidak hanya mencoba untuk mengkritik rezim yang sedang berkuasa, tapi juga berusaha untuk menggulingkan rezim tersebut. Hal ini didukung oleh banyak pihak yang kontra rezim.

Niat mahasiswa ini tentunya dicium oleh rezim yang berkuasa. Pemerintah yang dictator pun tidak tinggal diam. Berbagai usaha dilakukan oleh Soeharto dan antek-anteknya. Pelarangan buku-buku yang berbau kiri, pengasingan bahkan pembantaian orang-orang yang melawan tirani, pengauditan pers, samapai dengan dikeluarkannya NKK/BKK sebagai bentuk normalisasi kampus.

Keadaan saat itu sangat mencekam. Mahasiswa dilarang untuk berpolitik. Mahasiswa tugasnya hanya berkutat terkait perkuliahan, buku-buku perkuliahan, dan tugas-tugas perkuliahan. Selain itu untuk mempermudah pemerintah mengontrol semua pergerakan mahasiswa saat itu, msks dibuatlah pemusatan kegiatan mahasiswa atau yang kita kenal sekarang dengan nama Student Center (SC).

Tidak hanya mahsiswa, bagi masyarakat umum pun berbagai cara dilakukan oleh pemerintah saat itu guna mengurangi daya analisa dan kekritisan masyarakat. Salah satu metode adalah melalui media. Media saat itu dikuasai oleh pemerintah baik dari segi pemberitaan samapai pada penyeleksian tayangan-tayangan sinetron yang akan disiarkan ke masyarakat umum.

Semua pemberitaan haruslah diaudit oleh pemerintah, dalam hal ini Mentri Penerangan. Tujuannya agar semua pemberitaan yang terkait dengan pemerintah sejatinya dapat mencerminkan pencitraan pemerintah secara baik. Alhasil, banyak masyarakat Indonesia yang saat itu tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya terjai di bangsaanya sendiri.

Dalam dunia pendidikan itu sendiri ada banyak kasus penipuan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap para peserta didik. Sebagai salah satu contoh adalah Mata Pelajarah Sejarah. Kebanyakan dari Buku Sejarah Bangsa Indonesia yang beredar saat itu adalah suatu manipulasi sejarah Bangsa Indonesia.

Targetan dari semua usaha ini adalah mengubah masyarakat kritis menjadi masyarakat yang hedon dan konsumeratif. Hal ini jelas bertujuan untuk mengamankan tirani saat itu.

Akan tetapi, sepandai-pandainya Tupai melompat pasti akan jatuh juga. Pada tahun 1998 mahsiswa berhasil menumbangkan Soeharto dan Rezimnya. Bagi negara lain, inilah kemenangan terbesar masyarakat Indonesia melawan penjajah dari bangsa sendiri.

Kemenangan bolehlah kemenangan, tirani boleh tumbang, tapi pengaruhnya masih terus menjalar hingga saat ini. Seperti apakah pengaruh dari Rezim Orba yang belum bisa dihilangkan bahkan semakin berkembang pesat hingga saat ini?

Pendidikan yang Membodohkan

Menjadikan mahaiswa lupa akan dunia sekitar dan sibuk dengan urusan kuliahnya adalah salah satu cara menghilangkan kekritisan mahasiswa itu sendiri. Inilah salah satu efek dari NKK/BKK pada masa Orba sebagai bentuk normalisasi kampus.

Bagaimana tidak? Hampir setiap hari mahasiswa disibukan dengan perkuliahan samapai sore bahkan ada di beberapa kampus yang samapai malam hari. Setelah perkuliahan mahasiswa harus mengerjakan beberapa tugas yang hampir tiap pertemuan diberikan oleh dosen. Akibatnya mahasiswa kecapean untuk memikirkan kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar kampus. Sebut saja tentang kasus-kasus korupsi, atau masalah politik yang sedang terjadi di negri ini. Mungkin ini terlalu rumit bagi banyak orang, Sederhananya, jarang ada mahsiswa yang mau ikut memikirkan tentang nasib orang-orang kecil yang berada di sekitarnya seperti kehidupan para penjual angkringan sekitar kampus atau bagaimanakah para pemulung menyekolahkan anaknya, dan lain sebagainya.

Dunia kampus atau dunia pendidikan saat ini dibuat semakin jauh dari realita. Dunia pendidikan seakan merupakan sebuah dunia angan-angan yang sangat sulit untuk direalisasikan. Jarang, dalam suatu perkuliahan, ada dosen yang mengajak mahsiswanya untuk mendiskusikan tentang permasalahan sosial yang sedang terjadi di sekitar Dunia kampus. Dosen hanya berusaha bagaimana menghabiskan materi dalam perkulihan yang dia berikan dan menuntut mahasiswanya agar bisa mendapat nilai yang tinggi.

Pada kasus ini, seharusnya dosen tidak hanya berusaha mengajarkan ilmu yang dia berikan ke mahasiswanya saja, tapi juga harus memahamkan ke mahasiswanya akan ilmu yang dia berikan dan bagaimana mahasiswanya merealisasikan ilmu itu dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu,. Dosen harus selalu menyadarkan mahsiswanya akan tugas mahasiswa sebagai agen perubahan.

Kalau seandainya ini tidak terjadi, maka janganlah heran kalau sistem pendidikan tidak akan pernah lagi melahirkan orang-orang yang berpendidikan. Bagaimana tidak? Orang-orang yang berpendidikan adalah orang-orang yang benar-benar paham akan ilmunya dan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi, pendidikan saat ini tidak lagi bisa menghasilkan para ahli-ahli baru dalam ilmunya sendiri. Pendidikan saat ini hanya mencoba mencetak robot-robot pada bursa kerja nanti. Pendidikan saat ini hanya melahirkan babu-babu bagi para kapitalis.

Akibatnya, pengkonstruksian pada masyarakat umum tentang pendidikan pun makin terdegradasi. Orang menyuruh anaknya masuk kuliah untuk mengejar titel sarjana dengan nilai yang tinggi agar mudah saat dia mencari kerja nantinya. Jarang ada orang tua yang menyuruh anaknya untuk meraup ilmu sebesar mungkin di perguruan tinggi dengan tujuan agar bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Itulah wajah pendidikan secara umum.

Lalu bagaiamana dengan dunia pendidikan di Sanata Dharma sendiri? Apakah sudah menghasilkan orang-orang yang berpendidikan?

Sejak diterapkannya lima hari kerja pada tahun 2010, perkuliahan di Universitas Sanata Dharma (Sadhar), perkuliahan menjadi bertambah padat. Selain itu, kaderisasi dalam Organisasi Mahasiswa, dalam hal ini Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan komunitas-komunitas semakin mengalami kemunduruan.

Kalau pada tahun 2009 dan sebelumnya, hampir tidak ada perkuliahan yang samapai jam tujuh malam, kini, banyak mahasiswa dari beberapa prodi harus mengalami itu Hal ini tentunya menimbulkan kecapean pada mahsiswa. Belum lagi kalau dia harus menyelesaikan tugas untuk besok dan mempelajari kembali apa yang sudah dia dapatkan sepanjang hari yang melelahkan itu.

Pertanyaannya bagaimana mahsiswa sebagai agen perubahan bisa berdiskusi dengan orang lain guna membahas permasalahan yang terjadi di sekitarnya? Bagaiamana dia harus membaca buku-buku atau berita lain di luar perkuliahannya? Buku-buku di luar perkuliahan hanya menjadi bacaan seperti buku dongeng pengantar tidur yang menemani mimpi buruknya di malam hari. Kalau individu mahasiswa sudah kesulitan membagi waktu karena sistem pendidikan itu sendiri, lalu bagaiamana dengan organisasi kemahasiswaan?

Baik tidaknya organisasi kemahasiswaan itu ditentukan oleh individu-individu yang berada di dalamnya. Kalau individu itu sendiri kesulitan membagi waktu antara perkuliahan, dirinya, dan organisasi, mana mungkin bisa suatu organisasi dapat berjalan dengan baik? Kalau bisa pun itu hanyalah sebuah cerita dongen yang sangat romantis.

Pengkaderan dalam sebuah organisasi yang mempunyai tujuan untuk mengkritiskan anggotanya akan mengalami kendala besar. Ada tiga hal yang sering diperhatikan oleh organisasi mahasiswa untuk menjadikan anggotanya kritis dalam menanggapi sesuatu hal yaitu: membaca, berdiskusi dan menulis. Namun saat ini, budaya membaca, menulis, dan berdiskusi pun sudah sangat jauh menurun.
Mahasiswa hanya dicekokin dan mecekokan dirinya dengan buku-buku terkait perkuliahannya saja. Targetan mendapat nilai yang tinggi dengan berbagai cara pun dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa. Pada kelompok-kelompok kecil yang berkumpul, sangat jarang kita menemukan orang-orang yang sedang mendiskusikan suatu permasalahan sosial. Pada diskusi-diskusi besar pun, sangat sedikit sekali mahasiswa yang menghadirinya, apalagi diskusi itu tidak ada sertivikatnya.

Kita kadang lupa akan tugas utama kita yang lebih besar sebagai sebuah agen perubahan guna membangun bangsa ini. Kita hanya sibuk dengan kepentingan individu kita masing-masing. Akibatnya kita bisa menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadi kita itu, termasuk mengorbankan individu lain atau kita bisa menjadi serigala bagi manusia lain.

Dunia kampus atau dunia pendidikan saat ini dibuat semakin jauh dari realita. Dunia pendidikan seakan merupakan sebuah dunia angan-angan yang sangat sulit untuk direalisasikan. Sistem pendidikan saat ini sudah tidak lagi menghasilkan orang-orang yang berpendidikan. Pendidikan saat ini hanya menghasilkan robot-robot pada bursa kerja nanti. Pendidikan saat ini tidak lagi bisa menghasilkan para ahli-ahli baru dalam ilmunya sendiri. Pendidikan saat ini hanya menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang merasa tidak mengetehui ilmunya sendiri dan bahkan sewaktu-waktu bisa berubah menjadi seorang MAHASIWA bagi orang-orang sekitarnya. Inilah cita-cita dari Rezim Orde Baru yang sudah hampir sepenuhnya terealisasikan.

Kendati demikian, bukan berarti tidak ada cara menyelesaikan masalah ini. Salah satu cara menyelesaikan masalah ini dengan kembali membangun kesadaran mahasiswa akan pentingnya ketiga budaya di atas. Karena itu perlu kerjasama dari banyak pihak, baik mahasiswa maupun dosen, guna menghidupkan kembali budaya kritis dalam Dunia kampus dengan cara kita masing-masing. Kalau seandainya tidak, maka kita pun akan ikut masuk dalam perangkap Rezim Orba yang ingin membunuh budaya kritis mahasiswa dan menggantikannya menjadi budaya kripik.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: